Menyewa Tuk-Tuk di Siem Reap

Tuk-Tuk Chen (Image by : Tripadvisor)
Tuk-Tuk merupakan kendaraan mirip bajaj yang beroperasi di Kamboja. Kendaraan ini menjadi salah satu moda transportasi umum yang sering digunakan oleh para traveller untuk mengelilingi komplek Angkor Wat. Saya akan memberikan rekomendasi tuk-tuk yang pernah saya sewa ketika mengunjungi kota ini. 

Sebelum pergi ke Siem Reap, saya mencari-cari informasi tentang persewaan tuk-tuk di beberapa grup travelling yang ada di facebook dan couchsurfing. Butuh waktu lumayan lama untuk mendapatkan harga yang sesuai dengan kantong. Saya membutuhkan 2 tuk-tuk karena saya berangkat dengan 6 teman. Akhirnya ada salah satu driver tuk-tuk bernama Tum Vatha aka Chen yang mengirim pesan di account couchsurfing saya. Dia menawarkan harga yang pas dengan kantong saya dan teman-teman. Untuk sewa 1 tuk-tuk, saya mendapatkan harga 15$ perharinya. Penumpang akan mendapat gratis air minum selama perjalanan, kebebasan untuk mengatur waktu ketika mengunjungi komplek Angkor Wat dan juga penjemputan di bandara. Sayapun menyewa 2 tuk-tuk untuk 2 hari.

Inside Tuk-Tuk

With Chen and his father

Comment dari penumpang Tuk-Tuk Chen
Chen datang bersama dengan ayahnya untuk mengantar kami jalan-jalan keliling Siem Reap selama 2 hari. Mereka berdua sangatlah ramah. Chen menceritakan banyak informasi mengenai tempat-tempat wisata yang ada disini. Dia juga menunjukkan salah satu warung muslim yang ada di Siem Reap. So, untuk teman-teman yang akan berkunjung ke Siem Reap dan belum mendapatkan Tuk-Tuk, kalian bisa langsung menghubungi Chen.  

Muslim Restaurant in Siem Reap

Contact Tuk-Tuk Chen













Chapter 4 : Another tourism object in Siem Reap, Cambodia

Welcome to Siem Reap, Cambodia

If we hear about Siem Reap, the first tourism object that we know must be Angkor Wat complex. This temple is the famous tourism object in this city. But, Siem Reap not only have that temple. For this time, I will share my experience when I visited another tourism object in Siem Reap.

1.  Wat Preah Prom Rath
Wat Preah Prom Rath is located on Pokambor Avenue. It is an active monastery and open to the public from sunrise to sunset. We don't need to pay to enter this place. The compound of Wat Preah Prom Rath is an extraordinary colorful. The glittering pagoda is surrounded by well maintained gardens with palm trees and decorative sculpture. There are also benches for sitting and resting.

One of building in Wat Preah Prom Rath Pagoda
Inside of Wat Preah Prom Rath Pagoda (1)

Inside of Wat Preah Prom Rath Pagoda (2)

Inside of Wat Preah Prom Rath Pagoda (3)
Wefie at Wat Preah Prom Rath Pagoda

2. Wat bo
Wat Bo is one of the oldest pagodas in Siem Reap, Cambodia. It is a peaceful place to escape and take a break from touring the major temple sites of nearby Angkor. It is also contains a large collection of Buddha statues that you will find behind the main Buddha. We can see a number of colorful stupas, some interesting murals (inside the main of pagoda) and a mixture of the region's religious architecture. We can visit this place for free. 

at Wat Bo (Pic by : ferretingoutthefun.com)

Colorful Stupas at Wat Bo

3. Killing Field (Wat Thmey)
There are over 18000 killing fields in Cambodia. The famous one is in Phnom Penh. But we can also find the small one in Siem Reap. Killing Field or Wat Thmey is a live monastery where a large Stupa memorial can be found. The stupa has glass sides filled with the skulls and bones those who died during the Khmer Rouge. These have been diligently gathered by local residents in memory of their families and friends. Today, the monastery serves as an orphanage and school that is often visited by several tour buses. It is free to visit.

Wat Thmey Grounds (Pic by : Tripadvisor.com)

Skulls and Bones in Killing Fields



Cara mendapatkan tiket murah dari AirAsia


(Image by : seatguru.com)
AirAsia merupakan salah satu maskapai Low Budget yang sering digunakan oleh para traveller berbudget rendah. Maskapai ini sering menawarkan tiket-tiket promo rute International dan Domestik dengan harga yang fantastis. Bahkan biasanya harga tiket Internastional lebih murah dibanding dengan tiket Domestik. Selain itu, AirAsia juga mempunyai AirAsiaGo yang menawarkan tiket pesawat include dengan Hotel. AirAsiaGo menawarkan promo-promo yang tidak kalah fantastis. Saya pernah mendapat tiket pesawat Jakarta - Kinabalu PP include dengan hotel 2 hari semalam seharga 257ribu rupiah. Cerita tentang travelling ke Kinabalu bisa dibaca di Chapter 3 : Satu hari yang melelahkan di Kota Kinabalu.

Back to topik, disini saya akan membahas bagaimana cara mendapatkan tiket murah dari AirAsia. Bagi teman-teman traveller yang sering terbang dengan AirAsia, sebaiknya kalian membuat member AirAsiaBig. Banyak keuntungan yang didapatkan ketika menjadi member. 
1. Setiap kita terbang dengan AirAsia, kita akan mendapatkan point. Semakin sering kita terbang, semakin banyak point yang didapatkan. Point-point yang terkumpul bisa kita tukarkan dengan tiket pesawat. 
2. Dengan menjadi member, kita akan mendapatkan email yang berisi informasi mengenai Promo AirAsia dan AirAsiago
3. Terdapat Promo Final Call untuk member AirAsiaBig. Promo ini diadakan sebulan sekali di tiap minggu pertama. Pada promo ini, kita hanya perlu menukarkan point yang kita punya dan membayar airport tax beserta biaya lain-lain. Saya pernah mendapat tiket Jakarta-Surabaya one way dengan menukarkan 500 point dan membayar airport tax + biaya lain-lain seharga 66ribu rupiah. Ini merupakan tiket paling murah yang pernah saya dapat. 
4. Ketika Promo Kursi Gratis AirAsia, para member mendapat keuntungan untuk menikmati promo terlebih dahulu. Promo untuk member dibuka sehari sebelum Non Member. Jadi para member mempunyai akses pertama untuk menikmati promo-promo yang disediakan.

Promo Final Call

Promo Final Call Jakarta-Surabaya
Promo kursi gratis AirAsia


Recommendation hostel in Siem Reap, Cambodia


Onederz Hostel (Image by : in.hotels.com)
This was the first time I travelled Siem Reap, Cambodia. This time, I will tell my experience when I stayed at Onederz Hostel. A good hostel with cheap price, good facilities and strategic place. I booked this hostel from Booking.com. It was only 7USD/night. You will got single bed in Dormitory Room with air conditioner, swimming pool on the rooftop, free WiFi in all the areas, free baggage storage, free using computer in lobby hostel and also shared lounge.

At Lobby Hostel
At Lobby Hostel 
My dormitory room contains of 12 peoples. Every people will got free baggage storage to save their important things. Although I stayed with many people, didn't mean my room look dirty and smell. The office boy cleaned every room in this hostel 2 times a day.


Dormitory Room (Image by : Hostelworld.com)
For swimming pool, the visitor can use it on the rooftop from 6am until 10pm. We can see the sunset view here. I enjoyed this pool after day trip to Angkor Wat. It made me relax and fresh, because the weather in Siem Reap was so hot at that time. Its almost 38 degrees every day.


Swimming Pool on the Rooftop (Image by : Hostelworld.com)

Wefie on the Rooftop
This hostel also has shared lounge on the first floor. It looks like a place for meeting point with another visitor. We can talking, laughing or just laying our body in this lounge.  


Shared Lounge on the first floor
Another advantage staying in this hostel was the location. It was near with Night Market and Pub Street. The visitor just need walking to arrive at this places. They can find merchandise, local food, pub and bar along this street. So if you are looking for hostel near with public area, like relaxing on the pool but don’t have many budget, this hostel is a good choice for you.


Night Market

Pub Street

Chapter 3 : 3 Jam di Pulau Manukan



Goodbye Borneo Global Backpackers

Hari ini adalah hari kedua sekaligus hari terakhir kami di Kota Kinabalu. Agenda kami adalah snorkeling di Pulau Manukan. Pulau Manukan merupakan salah satu gugusan pulau yang ada di Tunku Abdul Rahman Marine Park. Untuk mengunjungi tempat ini, para wisatawan harus menyebrang melalui pelabuhan yang dikenal dengan Jesselton Point. Disini mereka bisa memilih paket wisata dari beberapa travel agent yang ada.

Kami check out dari hotel pada pukul 11.30, padahal berdasarkan rencana semalam kami seharusnya sudah meninggalkan hotel pada pukul 10.00. Itu semua disebabkan karna kami terlalu asiik bermain social media sampai lupa dengan waktu LLL. Keluar hotel kami langsung mencari angkutan umum ke arah Jesselton Point. Dan ternyata tidak ada angkutan yang langsung turun di depan Jesselton Point kecuali taxi. Sehingga kami berhenti di dekat Hotel Borneo Backpacker dan melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki

At Jesselton Point

Biaya yang kami keluarkan untuk mengunjungi Pulau Manukan adalah 50RM. Biaya tersebut sudah termasuk kapal pulang pergi dan sewa snorkel gear. Untuk masuk ke area Pulau, para wisatawan harus membayar lagi. Untuk wisatawan asing dikenakan biaya 10 RM, sedangkan penduduk asli Malaysia dikenakan biaya lebih murah yaitu 3RM. Pada saat kami membayar kapal di salah satu travel agent, kami disarankan oleh mereka untuk bercakap melayu ketika memasuki area Pulau supaya kami tidak perlu membayar lebih mahal. Kebetulan salah satu dari teman kami yaitu Dian bisa bercakap sedikit bahasa melayu. Akhirnya kamipun mengikuti saran mereka. Ketika memasuki Pulau, hanya Dian yang bercakap dengan petugas di loket pembayaran retribusi sedangkan yang lain hanya terdiam membisu. Daaaannn, kamipun berhasil. Kami hanya mebayar 3RM perorang. Awalnya kami tidak ada niatan untuk berbuat curang seperti itu, namun ternyata pihak travel menyarankan hal tersebut kepada kami. Yasudah kami terima tawaran mereka, heheeheeee..

Menuju Pulau Manukan
Welcome to Manukan Island

Waktu kami tidak banyak untuk mengeksplore Pulau Manukan. Kami sampai di Pulau pada pukul 13.00 dan kami sepakat untuk meninggalkan Pulau pada pukul 15.00. Kami berusaha tepat waktu karna kapal datang hanya 1 jam sekali.  Sehingga bakal mepet jika kami sampai ketinggalan kapal. Sebelum snorkeling, kami mengisi perut terlebih dahulu. Kami telah membeli nasi bungkus dan air mineral untuk bekal kami di Pulau. Ada satu kejadian yang bikin kami ketawa ketika kami akan menaiki kapal. Teman kami yang bernama Putra tidak sengaja menjatuhkan nasi bungkusnya sehingga beberapa isi dari nasi bungkus itu keluar. Sang driver kapal yang melihat kejadian tersebut berkata ke Putra kalo makanan tersebut masih bisa dimakan. Putra awalnya berniat untuk membuang makanan tersebut karna kami semua tertawa melihat kondisi makanannya yang sudah tidak berbentuk. Namun berkat ucapan sang driver, Putra pun menyimpan makanan tersebut dan membawanya untuk bekal di Pulau.

Setelah urusan perut selesai, kami bergegas mengganti pakaian dan langsung menuju ke pantai. Para gerombolan ikan telah menunggu keadatangan kami disana. Kami tidak lupa membawa action cam dengan underwater case yang siap mengabadikan setiap momen. Kondisi bawah air Pulau Manukan, menurut saya kurang begitu bagus dibanding dengan yang dimiliki oleh Indonesia. Tidak begitu banyak karang dan hanya gerombolan ikan yang saya jumpai.   

White Sand in Manukan Island

The girl on the beach
Snorkeling

Wefie with friends

Waktu berjalan begitu cepat. Tidak terasa, jam di tangan saya menunjukkan pukul dua seperempat. Kami harus segera bersih-bersih dan kembali ke dermaga. Karna bawaan tas kami yang tidak mungkin ditinggal, akhirnya kami bergantian untuk mandi. Para cewek mandi terlebih dahulu dan para cowok menunggu barang bawaan, begitu juga sebaliknya setelah mereka selesai mandi. Dan ternyata teman-teman saya yang cewek begitu lama mandinya. Mereka baru kembali jam tiga kurang lima belas. Saya dan Putra harus mandi secepat kilat agar tidak tertinggal kapal. Namun apadaya, secepat apapun itu kami tetap ditinggal oleh kapal. Kami sampai di dermaga pada pukul tiga lewat sepuluh. Mau tidak mau, kami harus menunggu kapal berikutnya. Disini saya mulai panik. Saya sudah tidak mood lagi berfoto-foto dan ingin segera sampai di bandara.
           
Tepat pukul empat, kapal kami datang dan kami  bergegas masuk ke kapal. Semuanya berdoa agar tidak tertinggal pesawat. Sesampainya di Jesselton Point, kami langsung lari dan mencari taxi ke bandara. Kami mendapat harga 30RM untuk satu taxi. Untungnya perjalanan dari Jesselton Point ke bandara tidak mengalami hambatan. Dengan waktu 30 menit kami tiba di Bandara. Kami segera menuju tempat check-in. Dan ternyataaaaaaa, pesawat kami mengalami delay selama satu jam. Kami akhirnya bisa tenang mendengar kabar tersebut. 

Untuk menunggu waktu boarding, kami menghabiskan sisa-sisa ringgit kami dengan berbelanja. Tidak ada sepeserpun ringgit dari kami yang tersisa.  

  

              


Chapter 3 : Satu hari yang melelahkan di Kota Kinabalu



Pasukan Kinabalu
Kami mendarat di Kota Kinabalu pada pagi hari. Perjalanan dari Jakarta ke Kota Kinabalu memakan waktu 2 jam 45 menit. Terdapat perbedaan waktu lebih cepat 1 jam dari Jakarta. Setibanya disana, kami langsung mencari bus kearah tempat kami menginap. Bus yang kami tumpangi akan berhenti di Padang Merdeka. Tempat ini merupakan salah satu terminal bus yang ada di Kota Kinabalu. Tarif bus dari Airport ke Padang Merdeka cuma 0.5 RM perorang. 

Dari Padang Merdeka, kami berjalan kaki menuju Hotel. Letak hotel kami tidak terlalu jauh. Sesampainya disana, ternyata kami salah hotel saudara-saudara. Hotel yang kami datangi bernama Borneo Backpackers, sedangkan hotel kami bernama Borneo Global Backpackers. Saya merasa sangat bersalah kepada teman-teman saya, karena saya salah mencari alamat hotel 😢😢. Kami kemudian bertanya kepada receptionist Hotel dimana letak Borneo Global Backpackers. Lokasinya ternyata masih jauh dari lokasi dimana kami berada sekarang. Hmmmmmmm 😬😬. Kami disarankan untuk naik taxi oleh mereka. Namun karena bekal ringgit kami yang tidak terlalu banyak, kami memutuskan untuk berjalan kaki menuju kesana.

Tiba di Padang Merdeka

Sebelum memulai perjalanan mencari hotel, kami mengisi perut terlebih dahulu. Kami sarapan di KFC Kampung Air. Jauh-jauh ke Kinabalu, makannya tetap KFC yaaa, hehehee 😂😂. Selesei makan, kami melanjutlan perjalanan kembali. Tanpa bekal peta dan paket data di handphone, kami mengandalkan kemampuan kami untuk bertanya kepada warga setempat. Untungnya warga Kinabalu ramah-ramah, sangat berbanding terbalik dengan warga Kuala Lumpur yang cenderung cuek. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan hanphone mereka dan menelphone pihak hotel ketika kami bertanya lokasi hotel kami berada.

Jalanan menuju Hotel

Jarum jam menunjukkan angka satu, hampir 2 setengah jam kami berjalan kaki mencari hotel. Kami terus berjalan sambil ngobrol dan tertawa ditengah terik matahari. Setengah jam kemudian, kami melihat papan kayu bertuliskan Borneo Global Backpackers. Alhamdulillah sampai juga di Hotel. Kami segera melakukan check in dan langsung merebahkan badan kami di kamar hotel. Rencana kami untuk menjelajahi Pulau Manukanpun tidak bisa terealisasi hari ini. Kondisi badan yang capek membuat kami menunda dan mengganti di keesokan harinya. Kami memutuskan untuk jalan-jalan di kota saja.

Borneo Global Backpackers

Setelah beristirahat selama satu setengah jam, kami berkumpul di lobby hotel dan bersiap untuk explore Kota Kinabalu. Kami menyewa minivan Hotel seharga 30RM (only dropping) untuk mengantarkan kami ke Signal Hill Observatory atau bukit bendera. Tempat ini merupakan titik tertinggi di Kota Kinabalu. Dari tempat ini, kita dapat melihat pemandangan Kota Kinabalu dan Laut Cina Selatan.

At Signal Hill Observatory
At Signal Hill Observatory (2)
View from Signal Hill (Source:Tripadvisor)

Puas berfoto-foto dan menikmati pemandangan disana, kami melanjutkan perjalanan ke Atkinson Clock Tower. Lokasi kedua ini, tidak terlalu jauh dari Signal Hill. Kami hanya perlu berjalan kaki menuruni bukit sejauh 1,1 km. Tapi karna sang driver berbaik hati, kamipun diantarkan  sampai ke lokasi kedua. Atkinson Clock Tower hampir sama dengan jam gadang yang ada di Sumatra Barat. Menara jam ini dibangun untuk memperingati mendiang Francis George Atkinson yang merupakan pejabat distrik pertama di Kota Kinabalu.

Atkinson Clock Tower (Pic:Ayu Arindani)

Dari Atkinson Clock Tower, kami berjalan kaki menuju pusat kota. Kami memulai berjalan kaki menyusuri Dewan Bandaraya Kota Kinabalu sambil mengamati bangunan yang ada di sepanjang jalan, Yang membuat saya senang dengan kota ini adalah trotoarnya yang sangat manusiawi. Saya bisa berjalan kaki dengan tenang tanpa perlu khawatir ada sepeda motor yang tiba-tiba nyelonong dari arah belakang. Ditambah lagi masih banyak pepohonan yang seakan menetralisir udara panas Kota Kinabalu yang berlokasi dekat dengan pesisir pantai.

Walk in Dewan Bandaraya KK
Wefie di salah satu sudut jalan Kota Kinabalu
Jalanan di Kota Kinabalu (Pic:Dian Rahma)
Kami sempat terhenti sejenak ketika melihat para pedagang di sekitar Night Market yang menjual jajanan masyarakat Kinabalu, kamipun membeli beberapa makanan disana. Ternyata ada beberapa orang Indonesia yang mencoba merubah nasib mereka dengan bermigrasi kesini dan berdagang. Saya sempat ngobrol dengan salah satu pedagang dari Madura yang ternyata sudah 7 tahun merantau ke Kota ini.

Kuliner Kinabalu (1)
Kuliner Kinabalu (2)
Kuliner Kinabalu (3)

Hempasan angin laut serasa memangil-manggil kami untuk segera mendekat ke bibir pantai. Kamipun bergerak menuju Waterfront Kota Kinabalu. Tempat ini sangat mirip dengan Pantai Losari yang ada di Makassar. Bersyukur sekali cuaca hari ini bersahabat sehingga kami berkesempatan menikamati matahari terbenam di Kota ini. 


Salah satu landmark Kota Kinabalu di dekat waterfront
Sunset di Kota Kinabalu

Para traveler tidak perlu khawatir mencari kudapan makan malam. Karna disepanjang pantai, banyak terdapat warga yang menjual Seafood hasil tangkapan para nelayan. Tidak sah jika kita travelling ke suatu tempat, tanpa mencoba makanannya. Kamipun mencoba olahan seafood masyarakat Kinabalu. Harga yang ditawarkan beragam, tergantung ukuran dan kemampuan kita menawar. 


Kudapan Seafood di pinggir pantai

Selesei makan malam, kami pergi ke Filipino Market yang merupakan destinasi terakhir kami hari ini. Disebut Filipino Market karna sebagian kios-kios dijalankan oleh imigran Filipina. Berbagai kerajinan lokal dijual di tempat ini. Yang paling terkenal di tempat ini adalah mutiara. Harga yang ditawarkan mulai dari 5RM. Sekali lagi, kemampuan menawar kita harus diterapkan disini supaya bisa ngeborong banyak oleh-oleh, hehehe.

Chapter 3 : 3 Jam di Pulau Manukan