Kedai Kopi Es Tak Kie



Kedai kopi tua yang terletak di pecinan Glodok ini selalu ramai dikunjungi oleh pembeli di tiap harinya. Kedai ini berdiri sejak tahun 1927. Konon katanya interior dan tata ruang kedai kopi ini tidak banyak berubah semenjak didirikan. Nama Tak Kie sendiri berasal dari Bahasa Tiongkok. "Tak" artinya orang yang bijaksana dan tidak macam-macam. Sementara kata "Kie" yang artinya mudah diingat orang.

Kedai kopi ini buka dari jam tujuh pagi sampai jam dua siang. Pengurus Kopi Tak Kie sekarang adalah Engkong Latif yang merupakan generasi ketiga. Untuk menuju kedai kopi ini, lumayan sulit menurut saya. Mungkin karena letaknya yang berada didalam gang. Sebelumnya saya sempat berputar-putar di didaerah glodok. Namun setelah melihat lagi google map, sayapun memutuskan untuk memarkir motor di belakang pasar asemka dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Para pengendara motor maupun mobil tidak bisa masuk kedalam gang ini.

Sampai di bibir gang, saya disambut oleh berbagai macam penjual makanan dan minuman. Mereka merayu untuk mampir ke lapaknya. Makanan yang dijual disini kebanyakan makanan non halal. Tapi jangan khawatir untuk para pengunjung muslim, masih ada beberapa makanan halal yang bisa kita temukan disini.

Salah satu penjual makanan non halal didepan Kedai Kopi Es Tak Kie
Masuk ke dalam kedai ini, saya melihat interior dan tata ruang yang sangat sederhana. Para pengunjung tidak akan menemukan sofa empuk, AC maupun wifii layaknya di kedai kopi modern. Hanya meja kursi kayu dan kipas angin uzur yang bergantung di bagian atas dinding. Saya memesan es kopi biasa dan teman saya memesan es kopi susu. Rasa es kopinya sangat pas di lidah saya. Harganyapun tidak terlalu mahal. Es kopi biasa Rp 15.000,00 sedangkan es kopi susu Rp 17.000,00. Untuk makanan, para pengunjung bisa memesannya didepan dan memakannya didalam kedai. Kami memesan bakmi ayam {halal}, yang letaknya pas di pintu masuk kedai tak kie. Harganya Rp 20.000,00 untuk satu porsi. Rasanyapun tidak kalah enak dibanding restaurant yang ada di mall. Sebelum pulang, saya sempat ngobrol dan meminta foto Engkong Latif yang waktu itu sedang berjaga di kasir. Orangnya sangat ramah kepada semua pengunjung. Semoga kedai kopi ini bisa terus bertahan dan tidak kalah bersaing dengan kedai kopi modern yang ada sekarang.

Es Kopi Susu dan Kopi Biasa

Menu makanan yang kami pesan
Engkong Latif, pemilik Kedai Kopi Es Tak Kie




Chapter 5 : Itinerary dan Biaya Liburan Hemat di Hongkong



Hongkong merupakan salah satu Negara dengan biaya hidup yang terkenal cukup mahal di kalangan backpacker. Cukup sulit untuk menemukan hotel dan tempat makan yang murah di Negara ini. Namun bagaimana cara travelling hemat di Hongkong? Saya akan membagikan itinerary dan biaya ketika saya travelling ke Hongkong selama 4 hari 3 malam.

1. Day 1 (Hongkong China Ferry Terminal - Day and Night Hostel - Tsim Sha Tsui)

Saya dan rombongan tiba di Hongkong pada sore hari melalui Hongkong China Ferry terminal, karena sebelumnya kami travelling ke Macau terlebih dahulu. Pelabuhan ini terletak di daerah Kowloon yang merupakan tempat dimana kami akan menginap. Anyway, Hongkong terbagi menjadi 3 district yaitu Kowloon, Lantau Island dan Hongkong Island. Pada umumnya, banyak traveller yang menginap di daerah Kowloon karena banyak ditemui hostel backpacker. Dari pelabuhan ini, kami berjalan kaki untuk mencapai hostel. Kami menginap di Day and Night hostel yang terletak di Chungking Mansion. Pada waktu itu, hostel ini merupakan hostel yang paling murah ketika saya mencari di Booking.com. Untuk menginap 4 hari 3 malam di dormitory room, saya hanya membayar 294 HKD atau Rp 529.200,00 per orang. (1 HKD = Rp 1.800,00 pada saat itu)

Pencarian Hostel 

Chungking Mansions
Dormitory Room Day and Night Hostel
Sesampainya di hostel, saya dan teman-teman memutuskan untuk beristirahat dan menunda perjalanan ke Avenue of Star karna keadaan kami yang cukup lelah setelah seharian jalan-jalan di Macau. Pada malam harinya, kami mencari makan malam di Tsim Sha Tsui. Karena sulitnya mencari makanan halal di Hongkong dan harga makanan di resto yang tidak sesuai dengan kantong, akhirnya kami membeli makanan di Seven Eleven (Sevel). Harga makanan disini sangat murah dibanding dengan harga makanan diluar. Saya membeli satu paket chicken katsu dan nasi beserta air minum seharga 26 HKD atau Rp 46.800,00

Cari makan malam di Sevel
Setelah mendapatkan makanan Halal


Biaya hari pertama :
- Day and Night Hostel 4 hari 3 malam : 294 HKD / Rp 529.200,00
- Makan malam : 26 HKD / Rp 46.800,00
Total : 320 HKD / Rp 576.000,00

2. Day2 (The Peak and Sky Terrace - Causeway Bay - Stanley Market and Beach - The Mid Levels Escalator - Avenue of Stars)

Sebelum memulai perjalanan keliling Hongkong, saya membeli Octopus Card terlebih dahulu. Para traveller wajib membeli kartu sakti ini ketika berkunjung ke Hongkong. Karena kartu ini bisa digunakan untuk pembayaran transportasi umum, berbelanja di Sevel, supermarket, restaurant, membeli minuman kaleng di vending machine dan melihat teropong di The Peak. Harga untuk 1 Octopus Card yaitu 150 HKD. Isi yang bisa dipakai oleh kartu ini adalah 100 HKD. Sedangkan sisanya 50 HKD diperuntukkan sebagai deposit yang tentunya bisa dicairkan ketika hendak meninggalkan Hongkong.  

Octopus Card
Destinasi wisata pertama yang saya kunjungi di Hongkong yaitu The Peak and Sky Terrace. The peak merupakan titik tertinggi di district Hongkong Island. Untuk mencapai the peak and sky terrace, para traveller bisa menggunakan The Peak Tram yang merupakan kereta kabel pertama di Asia yang telah beroperasi sejak tahun 1888. Harga tiket The Peak Tram dan Sky Terrace yaitu 83 HKD atau setara Rp 149.400,00. Jalur the peak tram ini adalah salah satu jalur tram terunik di dunia.Tram ini akan berjalan menaiki bukit Victoria Peak dengan kemiringan sekitar 45 derajat.

The Peak dari sisi depan
Peak Tram
Wefie at Peak Tram
Di Pintu Masuk The Peak and Sky Terrace
Me at Sky Terrace
Rombongan Hongkong
View from The Peak and Sky Terrace
Puas menikmati pemandangan di The Peak and Sky terrace, kami melanjutkan perjalanan ke Causeway Bay yang merupakan kampungnya orang Indonesia. Kami mencoba menggunakan moda transportasi tram untuk menuju kesana. Tram yang satu ini berbeda dengan yang saya naiki sebelumnya. Jika peak tram berjalan menaiki bukit dengan kemiringan 45 derajat, tram yang ini berjalan ditengah-tengah jalan raya. Para traveller disuguhkan pemandangan kota di sisi kiri maupun kanan jalan. Saya lupa berapa harga tiket tram dari The Peak ke Causeway Bay, karena waktu itu saya tinggal nge-tap Octopus Card yang saya punya.

Tram in Hongkong
Apa yang kami cari di Causeway Bay? Salah satu teman saya menyarankan untuk pergi ke tempat ini karena ditempat ini terdapat salah satu kedai makanan dari Indonesia yang bernama Warung Malang. Kami penasaran bagaimana bentuk restauran Indonesia yang ada di luar negri. Lokasinya berdekatan dengan Kedubes Indonesia. Namun yang saya sayangkan, harga makanannya cukup mahal (menurut saya dan beberapa teman) yaitu diatas 45 HKD / Rp 81.0000,00 seporsinya. Mungkin karena susah untuk mendapatkan bahan-bahan makanannya. Saya dan beberapa temanpun memutuskan untuk membeli makan siang di Sevel dan sisanya tetap makan siang disana.

Kedubes Indonesia di Hongkong

Warung Malang di Causeway Bay
Selesei makan, kami melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya yaitu Stanley Market and Beach. Kami menggunakan bus untuk menuju kesana. Lokasinya cukup jauh dari Causeway Bay. Butuh waktu 45 menit untuk sampai kesana. Tempat ini terletak di bagian paling selatan district Hongkong Island. Para pengunjung tidak dipungut biaya untuk masuk kawasan Stanley Market and Beach. Stanley terkenal dengan pasarnya. Pasar ini menjual beraneka ragam souvenir bagi para wisatawan. Namun harga yang ditawarkan relatif mahal. 

Di Stanley Beach, kami beristirahat sambil menikmati ice cream yang kami beli di Stanley Market. Kami duduk-duduk di pinggir pantai, menikmati pemandangan dan hembusan angin. Kami sampai lupa kalau kami harus balik sebelum jam 7 malam, karena bus ke Causeway Bay hanya sampai jam 7. 

At Stanley Beach
Sesampainya di Causeway Bay, kami langsung bergegas menuju destinasi berikutnya. Kami menyempatkan untuk melihat The Mid Levels Escalator. Escalator ini merupakan escalator outdoor terpanjang di dunia. Panjang escalator ini mencapai 800 meter. Mid Levels Escalator menghubungkan Central District dan Western District.

The Mid Levels Escalator
Destinasi terakhir yang kami kunjungi adalah Avenue of Stars. Tempat ini terletak di sisi Victoria Harbour, Kowloon. Avenue of Stars dibuat oleh pemerintah Hongkong sebagai penghargaan terhadap nama-nama yang telah berkontribusi menjadikan Hongkong sebagai "Hollywood of the East." Konsep tempat ini seperti "Walk of Fame" yang berada di Hollywood. Banyak spot yang menarik untuk berfoto. Tentunya semakin iconic spotnya, semakin ramai pengunjung yang berkeinginan untuk foto di tempat tersebut.

Berlatar belakang Victoria Harbor

At Avenue of Star
Victoria Harbor
Biaya hari kedua :
- Beli Octopus Card : 150 HKD / Rp 270.000,00
- The Peak Tram and Sky Terrace : 83 HKD / Rp 149.400,00
- Makan siang di Sevel : 21.90 HKD / Rp 39.420,00
- Ice Cream di Stanley Market : 9 HKD / Rp 16.200,00
- Makan malam di Sevel : 21.90 HKD / Rp 39.420,00
Total : 285.80 HKD / Rp 514.440,00

3. Day 3 (Tian Tan Budha - Wisdom Path - Po Lin Monastery - Disneyland - Ladies Market - Tsim Sha Tsui)

Sebelum memulai perjalanan hari ketiga, saya mengisi ulang saldo Octopus Card terlebih dahulu. Saldo di Octopus Card tidak boleh kurang dari 50 HKD. Sayapun mengisi 50 HKD lagi. Perjalanan hari ketiga dimulai dari Big Budha. Big Budha ini terletak di Lantau Island. Untuk mencapai tempat ini, kami harus naik MTR menuju Tung Chung terlebih dahulu. Dari sini, para traveller bisa memilih menggunakan cable car atau bus untuk melanjutkan perjalanan. Pada saat saya kesana, cable car sedang dalam perbaikan, sehingga saya menggunakan bis untuk mencapai Big Budha. 

Para pengunjung tidak dipungut biaya untuk masuk ketempat ini. Big Budha atau yang disebut orang lokal Tian Tan Budha merupakan patung terbesar ke lima di China. Patung ini mempunyai ketinggian 34 meter. Untuk mencapai patung Budha, para pengunjung membutuhkan perjuangan yang cukup besar. Terdapat 268 anak tangga yang harus dijajaki. Waktu yang paling baik untuk mengunjungi Tian Tan Budha adalah pada saat hari ulang tahun Budha, yaitu akhir april atau awal mei. Dimana ribuan orang berkumpul untuk berziarah mengunjungi Tian Tan Budha.

Pintu Gerbang Big Budha

Jalan menuju Big Budha

Di area Big Budha

Menuju Big Budha

Me at Big Budha
Lokasi Big Budha berdekatan dengan Po Lin Monastery dan Wisdom Path. Para pengunjung hanya perlu berjalan kaki untuk menuju kedua tempat tersebut. Setelah melihat Tian Tan Budha, saya melanjutkan perjalanan ke Wisdom Path. Jalan menuju Wisdom Path berbeda dengan jalan ke Tian Tan Budha. Para pengunjung harus berjalan melalui jalan setapak menembus hutan. Namun tidak perlu khawatir, karena jalan setapaknya sudah cukup bagus dan petunjuk jalannya cukup jelas. Selangkah demi selangkah akhirnya saya sampai di Wisdom Path yang terletak benar-benar di tengah kesunyian hutan. Wisdom Path merupakan 38 kayu yang memiliki tinggi sekitar 8-10 meter yang di impor dari Afrika. Di setiap batangnya, diukir inskripsi dari Heart Sutra yang menjadi dasar bagi 3 agama utama di Tiongkok yaitu Budha, Tao dan Konfusian.

Jalan menuju Wisdom Path

Wefie at Wisdom Path
Dari Wisdom Path, saya berjalan lagi menuju Po Lin Monastery. Biara ini digunakan sebagai tempat retret bagi umat Budha sedunia. Selain itu, biara ini juga berfungsi sebagai tempat peristirahatan para biksu Budha dan juga tempat makan bagi yang ingin makan siang. Tentu saja makanan yang disajikan disini umumnya adalah vegetarian. Puas berkeliling, saya dan teman-teman mengisi perut terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya. Kami makan di food court yang ada di dekat pintu masuk Big Budha. Saya membeli nasi goreng seafood dan air mineral seharga 54 HKD / Rp 97.200,00. (Harga makanan disini tidak ada yang dibawah 40 HKD).

At Po Lin Monastery
Destinasi berikutnya adalah Disneyland. Tiket masuk yang mahal membuat saya dan teman-teman tidak masuk ke tempat wisata ini. Uang saku yang kami bawa tidak cukup untuk membeli tiket seharga 589 HKD / Rp 1.060.200,00. Kami hanya berfoto didepan pintu masuk yang bertuliskan "Welcome to Disneyland Hongkong".

MRT to Disneyland

Welcome to Disneyland Hongkong
Setelah seharian menikmati wisata yang ada di Hongkong, kini saatnya kami berbelanja oleh-oleh. Kami berbelanja di daerah Ladies Market yang berada di sepanjang Tung Choi Street. Stasiun MTR terdekat adalah Mong Kok. Dari stasiun ini, kami keluar dipintu Exit E2. Dinamakan Ladies Market karena umumnya pengunjung pasar adalah perempuan dan barang-barang yang dijual identik dengan barang keperluan perempuan. Namun, untuk para laki-laki tidak perlu khawatir. Ada juga barang keperluan laki-laki yang dijual disini. Karena memang berupa "market", bersiaplah untuk tawar-menawar dengan para pedagang.

At Ladies Market

Tawar menawar di Ladies Market
Perjalanan hari ini berakhir di Tsim Sha Tsui. Saya dan teman-teman mampir di sebuah toko yang menjual berbagai macam cokelat. Kamipun membeli beberapa untuk oleh-oleh kerabat dan keluarga di Jakarta. Malam ini merupakan malam terakhir kami di Hongkong, karena keesokan harinya kami akan kembali ke Macau.

Biaya Hari Ketiga :
- Isi ulang Octopus Card : 50 HKD / Rp 90.000,00
- Makan siang di Big Budha : 54 HKD / Rp 97.200,00
- Makan malam di Mc Donald : 22.5 HKD / Rp 40.500,00
- Beli oleh-oleh di Ladies Market : 116.1 HKD / Rp 208.980,00
- Beli cokelat di Tsim Sha Tsui : 19 HKD / Rp 34.200,00
Total : 261.6 HKD / Rp 470.880,00

4. Day 4 (Hongkong China Ferry Terminal - Macau)

Hari ini saya dan teman-teman akan meninggalkan Hongkong dan kembali ke Macau. Untuk mencapai Macau, kami menggunakan turbo jet dari Hongkong China Ferry Terminal. Harga tiket turbo jet dari Hongkong ke Macau adalah 160 HKD. Sangat senang bisa mengunjungi Negara maju seperti Hongkong ini. Banyak pengalaman yang saya dapatkan dan cerita yang bisa saya bagi setelah saya pulang dari Negara ini.

On the way to Hongkong China Ferry Terminal
Biaya Hari Keempat :
- Sarapan di Sevel : 7.5 HKD / Rp 13.500,00
- Tiket Turbo Jet : 160 HKD / Rp 288.000,00
Total : 167.5 HKD / Rp 301.500

Jadi, total biaya yang saya keluarkan ketika mengunjungi Hongkong selama 4 hari 3 malam yaitu Rp 1.862.820,00.



    





Menyewa Tuk-Tuk di Siem Reap

Tuk-Tuk Chen (Image by : Tripadvisor)
Tuk-Tuk merupakan kendaraan mirip bajaj yang beroperasi di Kamboja. Kendaraan ini menjadi salah satu moda transportasi umum yang sering digunakan oleh para traveller untuk mengelilingi komplek Angkor Wat. Saya akan memberikan rekomendasi tuk-tuk yang pernah saya sewa ketika mengunjungi kota ini. 

Sebelum pergi ke Siem Reap, saya mencari-cari informasi tentang persewaan tuk-tuk di beberapa grup travelling yang ada di facebook dan couchsurfing. Butuh waktu lumayan lama untuk mendapatkan harga yang sesuai dengan kantong. Saya membutuhkan 2 tuk-tuk karena saya berangkat dengan 6 teman. Akhirnya ada salah satu driver tuk-tuk bernama Tum Vatha aka Chen yang mengirim pesan di account couchsurfing saya. Dia menawarkan harga yang pas dengan kantong saya dan teman-teman. Untuk sewa 1 tuk-tuk, saya mendapatkan harga 15$ perharinya. Penumpang akan mendapat gratis air minum selama perjalanan, kebebasan untuk mengatur waktu ketika mengunjungi komplek Angkor Wat dan juga penjemputan di bandara. Sayapun menyewa 2 tuk-tuk untuk 2 hari.

Inside Tuk-Tuk

With Chen and his father

Comment dari penumpang Tuk-Tuk Chen
Chen datang bersama dengan ayahnya untuk mengantar kami jalan-jalan keliling Siem Reap selama 2 hari. Mereka berdua sangatlah ramah. Chen menceritakan banyak informasi mengenai tempat-tempat wisata yang ada disini. Dia juga menunjukkan salah satu warung muslim yang ada di Siem Reap. So, untuk teman-teman yang akan berkunjung ke Siem Reap dan belum mendapatkan Tuk-Tuk, kalian bisa langsung menghubungi Chen.  

Muslim Restaurant in Siem Reap

Contact Tuk-Tuk Chen













Chapter 4 : Another tourism object in Siem Reap, Cambodia

Welcome to Siem Reap, Cambodia

If we hear about Siem Reap, the first tourism object that we know must be Angkor Wat complex. This temple is the famous tourism object in this city. But, Siem Reap not only have that temple. For this time, I will share my experience when I visited another tourism object in Siem Reap.

1.  Wat Preah Prom Rath
Wat Preah Prom Rath is located on Pokambor Avenue. It is an active monastery and open to the public from sunrise to sunset. We don't need to pay to enter this place. The compound of Wat Preah Prom Rath is an extraordinary colorful. The glittering pagoda is surrounded by well maintained gardens with palm trees and decorative sculpture. There are also benches for sitting and resting.

One of building in Wat Preah Prom Rath Pagoda
Inside of Wat Preah Prom Rath Pagoda (1)

Inside of Wat Preah Prom Rath Pagoda (2)

Inside of Wat Preah Prom Rath Pagoda (3)
Wefie at Wat Preah Prom Rath Pagoda

2. Wat bo
Wat Bo is one of the oldest pagodas in Siem Reap, Cambodia. It is a peaceful place to escape and take a break from touring the major temple sites of nearby Angkor. It is also contains a large collection of Buddha statues that you will find behind the main Buddha. We can see a number of colorful stupas, some interesting murals (inside the main of pagoda) and a mixture of the region's religious architecture. We can visit this place for free. 

at Wat Bo (Pic by : ferretingoutthefun.com)

Colorful Stupas at Wat Bo

3. Killing Field (Wat Thmey)
There are over 18000 killing fields in Cambodia. The famous one is in Phnom Penh. But we can also find the small one in Siem Reap. Killing Field or Wat Thmey is a live monastery where a large Stupa memorial can be found. The stupa has glass sides filled with the skulls and bones those who died during the Khmer Rouge. These have been diligently gathered by local residents in memory of their families and friends. Today, the monastery serves as an orphanage and school that is often visited by several tour buses. It is free to visit.

Wat Thmey Grounds (Pic by : Tripadvisor.com)

Skulls and Bones in Killing Fields